Akulah sang padang rumput yang terkenal dengan kelapanganku itu. di keheningan malam ini ku tatap langit, demi sebuah cita dan aroma semerbak harum asma. Matahari dan bulan telah melewatiku lebih dari tiga ratus enam puluh lima kali puluhan lintasan, hampir semua terbit dalam ribuan kesemuan dan kepalsuan.
Aku terdiri dari jutaan ribu helai rumput yang hijau menggemaskan, dan rumputku telah puluhan kali dihinggapi belalang. Suatu saat, salah satu helai rumputku berkata bahwa dia telah jatuh cinta kepada Seekor belalang. Tapi, Ketegasan dan keangkuhan jiwa ini terlalu kuat tuk relakan sedikit rumputku pada si kaki belalang berambut panjang itu. TIDAK!!! Kau terlalu bagus untuk familia berkulit keras itu, kau seharusnya dihinggapi oleh ordo berkulit halus lembut sehalus rambut gadis sunsilk.
Rumput berusaha melupakannya, sampai suatu ketika Rumput berkata, ada kupu-kupu cantik yang ingin memilikiku. Ini dia! sekilas kepakan sayapnya menggoda mata. Halus, lembut, tanpa ketombe. Akupun terdiam, dia memang sempurna, persis seperti yang kuinginkan!.
Tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan, terutama untuk rumputku yang malang. Kupu-kupu itu terlalu sempurna untukku, aku bahkan tidak dapat menghasilkan madu yang diinginkannya, karena aku ini bukan bunga yang diimpikannya. Dia masih menginginkan bunga. TAPI, Aku ini hanyalah ilalang biasa, tempat belalang-belalang liar bermain, dan hanya berakhir untuk dijadikan makanan penggemuk sapi-sapi perahan. Begitu katanya.
Rumputku memang hijau dan segar. Semusim berlalu, dan rumputku telah memilih jalan hidupnya sendiri. DIa membiarkan dirinya sekarat, merangas, menguapkan tetes-tetes airmata kering tanpa sisa, dan berharap kupu-kupu pergi melewatinya.
Apa maumu, put? Tak inginkah kau dikelilingi oleh kepakan sayap sehalus sutera itu sepanjang hari? Dang Padang, ketahuilah! Aku sengaja membiarkan sekujur tubuhku tak terkena hujan, biarlah diriku kuning mengering. Dia ternyata masih hinggap pada bunga terakhirnya, bukan padaku. Dia tetaplah kupu-kupu yang membutuhkan bunga, bukan sekedar pecinta untuk menikmati warna hijauku.
Kini…… Aku terdiam lagi, menatap gelapnya langit malam, bersih, tanpa bintang. kulihat sekilas kemirlap cahaya di kegelapan malam tak jauh disana. Ku ambil kacamata baca tanpa suryakanta yang sering kugunakan. Tak salahkah mataku? Apa sebenarnya kilauan cahaya tadi itu? Ya, ada belalang yang lain sedang mendekati rumputku dengan tersenyum, kilauan cahaya itu ternyata berasal dari deretan begel kawat giginya, bukan dari perangkap tikus yang kubenci itu…..
- Cerita ini hanya ketikan iseng, nama dan perumpamaan tidak ada yang disengaja, dan tidak berhubungan dengan siapapun di dunia nyata. diketik pada h plus 5 lebaran 1929. aw
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
